Pages

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Terj. Q.S. Al-'Asr)

Selasa, 20 Desember 2011

5 KEGELAPAN DAN 5 YANG AKAN MENERANGI

 بسم الله الرحمن الرحيم

Di bawah ini akan saya nukilkan sebagian nasehat dari seorang sahabat nabi yang terkenal dengan kelembutan hatinya. Beliau adalah Abu Bakar Assidiq RA.
Beliau mengatakan :”Dalam 5 Kegelapan ada 5 Cahaya”
Semoga uraian dari pemahaman saya tidak melenceng dari maksud dan hikmah dibalik nasehat beliau. Ya Allah berilah pertolongan kepada hambamu untuk menuliskan sesuatu yang berguna melalui nasehat dari hambaMu Abu Bakar yang semoga Engkau merahmatinya. amin
Dalam 5 Kegelapan dan 5 cahaya itu adalah :
Pertama
Kegelapan dunia dan cahayanya adalah Taqwa Dunia ini gelap, disana lautan kemaksiatan yang bergumal dalam kegelapan nafsu syahwat menjadikan dunia ini semakin pekat. Kegelapan itu akan menjadikan sekian manusia lupa dan jauh dari nilai-nilai Islam. Sisi kebaikan itu telah nampak buruk dimata mereka karena kurangnya sinar yang mampu membedakannya dengan keburukan dan kerusakan. Sungguh bukankah telah nampak pemandangan yang semakin cerah dan terang dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, sehingga di setiap lorong tempat di dunia ini telah terang benderang. Sekian puncak gunung telah bersinar, lembah-lembah menjadi elok beraneka rupa, kota-kota besar telah berkedip dengan suasana kemeriahan lampu hias. Namun sisi ruhiyah mereka gelap, walaupun secara dhohir nampak terang benderang. Kegelapan dunia yang menjadikan manusia menjadi sosok yang menakutkan dengan dominannya sifat binatang manusia. Karena manusia ibarat binatang yang dikarunia hati dan akal.
Ketika keduanya (hati dan akal) telah didominasi dari nafsu binatang maka manusia itu telah manjadi binatang yang lebih berbahaya dari semua binatang di dunia. Mereka akan meningggalkan semua sifat manusia yang ia miliki hingga akhirnya perbuatan mereka lebih bejat dari binatang. Bisa kita tengok sikap-sikap melenceng manusia yang telah berubah menjadi nafsu binatang. Bagaimana kita lihat dalam kisah aborsi, sekian juta bayi mungil berumur bulanan telah menjadi kekejian dari ibu kandungnya terjadi setiap hari, yang mana peristiwa itu tidak akan kita jumpai dalam perjalanan hidup binatang, walaupun mereka binatang buas sekalipun. Pelacuran telah merebak menjadi trend generasi muda dan tua, sebuah berita yang sangat memilukan ditelinga kita. Kebiadaban ayah kepada anaknya hingga menyandang status ganda, bapak dan kakek dari seorang bayi yang lahir dari anak teraniaya. Sekian bentuk penyimpangan yang menjadi gambaran jelas tentang kegelapan ini tidak mampu untuk ditulis karena banyaknya.
Cahaya dari kegelapan itu adalah taqwa. kalau kita berada dalam satu tempat yang banyak duri kemudian kita berjalan dengan sangat hati-hati, maka itulah definisi taqwa. Yaitu kehati-hatian kita dalam melaksanakan dan meninggalkan perintah Allah. Maka dengan taqwa itulah kita memegang obor sebagai cahaya kita mengarungi kegelapan dunia. Dari sanalah kejelasan kita memandang segala hal dengan benar dan jelas sehingga kita terjaga dari kesalahan serta kemaksiatan. Semoga kita dikaruniai Allah ketaqwaan.
Kedua
Kegelapan dosa dan cahayanya adalah taubat Dosa itu adalah kegelapan yang mampu menghalangi kita untuk meraih kenikmatan bermunajat kepada Allah Sebuah kegelapan yang manjadikan kita semakin jauh dari kebaikan dan kesholehan. Ketika dosa itu telah kita lakukan maka setitik noda kegelapan telah nampak dihati kita, demikian bila semakin bertambah maka noda-noda itulah yang akan menjadi identitas dari hati kita sehingga kegelapan menaungi hati dan membuatnya semakin jauh dari kebaikan dan kesholehan.
Cahaya dari dosa adalah taubat, dengan taubat kita akan menjadi manusia baru. Taubatlah yang menghantarkan kita kembali kepada Allah. Sangat tidak mungkin manusia itu bisa lari dan terhindar dari dosa karena tabiat dan sifat manusia adalah salah dan lupa. Maka Allah menyediakan sarana yang baik berupa pintu taubat yang selalu terbuka hingga mentari terbit dari barat, atau manusia mengalami sakaratul maut. jadilah kita manusia yang selalu bertobat. Rosulullah beristighfar sebagai wujud
Ketiga
Kegelapan kuburan cahayanya adalah La Illa Ha Illallah Muhammadarrosulullah Kuburan adalah tempat terakhir dari jasad kita setelah kematian menghampiri kita, gelar lmarhum/mah telah melekat dalam diri kita. Tempat itu adalah rumah yang tidak berpintu dan berjendela. Gelap, pengap, kotor, sempit, bau, dan penuh dengan cacing dan binatang dalam tanah. Cukuplah dengan kematian dan kuburan menjadi pengingat kita tatkala keimanan telah turun level dan melemah. Itulah hikmah kenapa Rosulullah membolehkan kita untuk ziarah kubur, karena kita akan menjadi dekat kepada kampung akherat. Sungguh kegelapan alam kubur adalah mimpi buruk bagi semua manusia bila tidak mempersiapkan penerangnya. Alam kubur adalah pintu pertama yang akan mengantarkan kita ke kampung akherat, kebaikan disini berarti memberi celah kita untuk bahagia di akherat. Namun apabila disini kita sudah menerima siksaan dan kegelapan, maka bersiaplah untuk kondisi yang lebih buruk. Maka kita haruslah menyadari sejak awal pentingnya menyiapkan cahaya alam kubur sebelum kita singgah disana. Bacalah kalimat La Illa Ha Illallah Muhammadarrosulullah setiap hari, resapi makna dan kandungannya sehingga kita mampu mengamalkan setiap makna pada kedua kalimat itu. Tidak ada (illah) tuhan selain Allah, adalah keesaan kita dalam beribadah. Manusia terkadang menjadikan illah yang ia sembah selain dari Allah. Bagi penggila pekerjaan, maka ia telah menjadikan pekerjaan sebagai illah-nya. Bagi seorang hartawan yang teramat cintanya dengan hartanya, maka ia telah menjadikan harta sebagai illahnya, dan seterusnya. Maka kalau kita memahami kalimat itu, maka kita hanya akan rindu, cinta, mengabdikan diri, kepada dzat yang maha sempurna, yaitu Allah SWT. Muhammadarrosulullah adalah keyakinan kita bahwa Muhammad itu adalah manusia terpilih yang diturunkan Allah ke dunia sebagai suritauladan bagi seluruh umat manusia untuk mengamalkan Al Islam secara kaffah dan benar. Kewajiban kita adalah mencontoh, melaksanakan dan menghidupkan sunnahnya. Kecintaan kita kepada Rosulullah akan mengundang kecintaan Allah kepada kita.
Ke empat
Kegelapan Akherat cahayanya adalah amal sholeh akherat itu gelap apabila kita hadir kedalamnya tanpa bekal yang memadai. Bekal kita bukan harta yang banyak, bukan istri yang cantik, bukan anak yang ganteng dan cantik, bukan pekerjaan yang mapan dan bergaji tinggi, bukan titel dan gelar yang melangit. Namun bekal kita sebagai penerang
akherat adalah amal sholeh, amal yang akan menjadikan kita dekat kepada Allah. Amal sholeh itu bermakna luas. Apabila kita melaksanakan Al-quran dan As sunnah maka insyaAllah kita telah berbekal yang benar. Amal sholeh bukan hanya teori dan ketinggian ilmu, namun kita juga harus menerapkan ilmu itu secara nyata dalam hidup kita. Ilmu dan amal adalah satu nafas yang akan menjadikan kita dekat kepada Allah.
Kelima
Kegelapan sirath cahayanya adalah iman
Sirath adalah jembatan yang menghubungkan masyar dengan syurga, di bawah sirath terbentang neraka yang menyala. Tidak semua manusia mampu melewatinya, hanya manusia dengan bekal yang cukup yang mampu melewatinya dengan selamat. InsyaAllah nanti akan beraneka macam cara manusia untuk melewatinya. Ada yang merangkak, berjalan, berlari, bergelantungan dan ada yang secepat kilat. Kesukaran dan kepayahan kiat untuk melewatinya diibaratkan seperti rambut yang dibelah tujuh. Terbayang ndak ?. maka kita harus membekali diri kita dengan iman yang benar sebagai penerang dari jembatan sirath yang penuh dengan misterinya. Kita hanya akan melintas satu kali dalam sejarah kita sebagai manusia dan hamba Allah, maka jangan sampai kita terpeleset atau jatuh darinya. Karena jatuhnya bukan ke sungai yang berair dingin, namun kepada neraka yang menyala-nyala. Bahan bakarnya adalah manusia dan batu, ia hanya akan dinyalakan sekali dan tidak akan padam (wallahu ‘alam). keimanan kita harus lurus dan tidak terkotori oleh sesuatu yang lain. Kita hanya boleh beriman kepada Allah.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 01 Desember 2011

JADIKANLAH HIDUPMU BAGAIKAN SEORANG MUSAFIR YANG KETIKA PAGI DIA TDK MENUNGGU MALAM DAN KETIKA MALAM DIA TDK MENUNGGU PAGI DAN KELAK DIA AKAN KEMBALI KE TEMPAT ASALNYA

Perjalanan hidup seseorang adalah suatu takdir yang harus dilalui. Tiada kehidupan ini tanpa kesulitan, begitu pula tiada kesulitan yang tak berakhir. Yang pasti, antara kesenangan dan kesusahaan, kenikmatan dan penderitaan, kesulitan dan kemudahan akan senantiasa silih berganti menghiasi kehidupan ini oleh siapapun. Tak terkecuali oleh diriku sendiri.
Kita memang tidak tahu suratan nasib kita. Tapi membangun masa depan dengan optimisme dapat memotivasi diri untuk lebih berarti dalam hidup ini. Kesadaran akan makna kehidupan yang harus diisi dengan segala sesuatu yang bermanfaat dan panggilan rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri dapat mendorong seseorang menemukan jati dirinya tentang arti hidup atau hakekat kehidupan. Oleh karena itu agama Islam mengajarkan “ Dia akan mendapatkan dari apa yang ia usahakan dan dia tidak akan mendapat apa-apa tanpa mau berbuat sesuatu .
Firman Allah : 
Artinya
Ia mendapat pahala (dari kebajikan ) yang diusahakannya dan Ia mendapat siksa ( dari kejahatan ) yang dikerjakannya (Q:2:286)
ternyata juga diungkapkan oleh seorang filosof Barat bernama Satre “ Man Is Nothing else but what he maker of himself “ yang diterjemahkan secara bebas bahwa “ seseorang itu bukanlah orang lain tapi ia adalah apa yang ia perbuat dari dirinya sendiri “ Dari kata filsafah dan makna ayat Al Qur’an tadi, kita dapat memetik tuntunan bahwa kita harus berbuat sesuatu agar hidup kita ini bermakna. Tentu saja sebagai seorang muslim setiap perbuatan yang kita lakukan dilaksanakan dengan iklas dan semata-mata mencari dan untuk mendapatkan ridlo Allah Swt.
Saya anak seorang guru mengaji, kebetulan dilahirkan disebuah desa yang jauh dari pengaruh kehidupan kota. Orang tua kami, keluarga petani bersahaja dengan tanah garapan yang tak seberapa luasnya, tempat kami bergulat dengan penderitaan dan kesederhanaan. Hasil pernikahan kedua orang tua kami menlahirkan 5 orang putra. 2 laki-laki dan 3 wanita. Saya anak kedua bernama Ahmad ( bukan nama sebenarnya ).
Perjalanan hidup saya tidak ada yang istimewa. Biasa-biasa saja. Sejak berusia 13 tahun saya terpaksa harus berhenti sekolah karena berkelahi dan dikeluarkan. Selama 3 tahun saya masih berusaha bertahan dikampung halaman . Pada tahun 1996 saya bertekad mengembara ke Yogyakarta waktu itu usiaku sekitar 16 tahun.
Kedatangan saya dikota Pelajar ini langsung mondok dikrapyak. Pada waktu itu saya masih dibiayai oleh orang tua , meskipun biaya tersebut sangat tidak mencukupi. Untuk menutup kekurangan biaya, saya bekerja apa saja sambil mondok, antara lain menarik becak, berjualan telur, ikut laden tukang, ikut jualan buah-buahan, ikut memetik padi di sawah, pokoknya asal mendapat uang sekedar menutup kebutuhan kehidupan sehari-hari seorang perantau.
Pada tahun 1980 saya diterima kuliah di IAIN Sunan KaliJaga Yogyakarta. Pada suatu saat, aku duduk di tangga masjid IAIN , sambil memperhatikan mahasiswa dan mahasiswi asik bercanda, tertawa ceria. Seakan hidup mereka tanpa beban permasalahan. Aku merasa iri kepada mereka, betapa bahagia dalam hidup ini, sedang aku sendiri dalam keadaan yang kalut, jauh dari orang tua, meskipun ada kiriman dari orang tua, tidak cukup untuk kost dan biaya kuliah. Aku termenung sejenak, terasa kesendirianku membangkitkan semangat untuk mengatasi semua persoalan hidup ini dengan karya-karyaku, jika aku tidak ingin hidup terlantar atau mati terdampar.
Aku tersentak, ketika dari jauh terdengar sayup-sayup suara adzhan Ashar .Saat itu aku yakin Tuhan pasti memberi jalan bagi hambanya yang betul betul berusaha untuk merubah nasibnya. Kutunggu lama, belum juga ada adzan di Masjid IAIN. Tanpa pikir panjang aku segera ambil air wudlu dan azhan. Mungkin karena pikiran yang sedang kacau, begitu pula hatiku sedang sedih, suara adzan ku terpengaruh . lengkingan suaraku seakan –akan jeritan kepilauan hati, yang mendambakan pertolongan, merasuk kedalam relung-relung kalbu pendengarnya, menimbulkan rasa simpati yang mendalam. Ternyata salah seorang dosen IAIN yang kebetulan pengurus takmir, langsung mencari dan menemui saya. Beliau menawarkan tugas untuk menjadi Mu’adzin kepada saya dan diharapkan mau tinggal di komplek masjid. Pucuk dicinta ulam tiba. Tentu saja tawaran itu langsung aku terima. Dengan mengucap syukur saya terima tawaran dengan segala senang hati.
Mulai saat itu beban saya mulai berkurang. Tempat kost gratis makan disediakan, bahkan sekali waktu masih dikasih honor. Alhamdulillah didikan adzan oleh orang tua saya telah menolong diri saya dari sebagian beban kehidupan yang terasa menghimpit waktu itu
Masjid, awal dari kemandirianku
Keberadaanku di Masjid IAIN Merupakan awal perjuangan hidup kemandirianku terutama dalam mempersiapkan kehidupan yang lebih mapan. Kebetulan tugas yang diberikan kepada aku sebagai muadzin, saat itu menjelang puasa. Dalam bulan puasa, buka dan sahur ada yang menyediakan, dengan demikian sementara masalah makan dan tempat tinggal tak merupakan persoalan. Karena dalam bulan puasa banyak jamaah yang berdatangan, Saya mulaimerintis usaha menjual buku-buku agama, ternyata hasilnya lumayan, bahkan takmir masjid berinisiatif membuka bursa buku dan saya diberi tugas sebagai pengelolanya. Toko buku itu saya kembangkan untuk menerima ketikan dan terjemahan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dan dari hasil jerih payah inilah saya saya bisa meneruskan kuliah..
Selama tinggal dimasjid saya banyak bergaul dengan berbagai kalangan terutama dosen, pejabat dan pemuka agama. Diantara mereka ada yang sangat terkesan dihati saya, bahkan banyak memberi dorongan pada diri saya agar hidup saya ini lebih bermanfaat.
Pada suatu hari saya diberi tugas menjemput dan mengantar bapak Prof Dr. Syafii Maarif dengan mobil IAIN untuk berceramah tarwih di masjid IAIN . Pulangnya beliau memberi amplop yang diterima dari pengurus takmir kepada saya dan sekaligus saya diajak mampir ke Rumah Makan Padang. Peristiwa ini betul-betul sangat membahagiakan saya, betapa baik hati seorang pimpinan yang yang merakyat, bukan karena pemberian semata-mata tapi kerendahan hati dan keluhuran jiwanya yang membanggakan , mudah-mudahan beliau di rahmati Allah. Amin.
Bahkan keberadaan saya di Masid IAIN itulah yang mempertemukan saya dengan calon ibunya anak saya. Tatkala saya dipercaya mengelola toko buku, Terpaut hati ini dengan salah satu mahasiswa yang rajin datang di toko buku itu. Hubungan kamipun semakin dekat, bahkan kami bertekad untuk kelak akan membangun rumah tangga bersama jika kami telah menyelesaikan studi. Tahun 1984 saya berhasil mendapatkan ijazah Sarjana Muda. Tapi orang tua tidak sanggup lagi menanggung biaya kuliah, kiriman orang tua tiap bulan terputus, karena orang tua harus menanggung adik saya sekolah dan kuliah, oleh karena itu saya dilepas untuk bersikap mandiri, mau tidak mau, saya tentu tidak ingin mati konyol di kota besar. Saya harus mampu berbuat sesuatu untuk mencukupi kebutuhan saya sendiri untuk makan, pakaian, tempat tinggal bahkan biaya kuliah. Inilah saat-saat yang sangat kami rasakan betapa makna hidup itu sebagai suatu perjuangan yang penuh dengan tantangan, cobaan bahkan rintangan. Tapi semua itu saya hadapi dengan penuh ketabahan, kesabaran dan yawakal. Kami yakin Tuhan akan memberi jalan kepada hambaNya yang sudah berusaha semampu daya dan tenaga dengan tak lupa mohon pertolonganNya.
Bermula dari kegiatan pengetikan dan penterjemahan, saya mempunyai seorang langganan tetap . Orang Jawa mengatakan “Witing tresno jalaran soko kulino”. Begitulah, karena seringnya bertemu itu, hati kami terpadu, jalinan cinta kasih mulai bersemi dan tumbuh menjadi sebuah tekad yang bulat hasrat untuk membangun sebuah rumah tangga bersama. Akan tetapi proses hubungan kami ternyata penuh halangan dan rintangan. Orang tua calon pendamping hidupku tidak merestui hubungan kami. Kami pantang mundur, dengan segala ihtiar kami lalui, pendekatan kekeluargaan kami jalani dan atas kegigihan perjuangan kami menggapai hastrat, akhirnya calon mertua saya bisa merestui pernikahan kami. Hal itu masih dengan catatan tidak akan diberi bantuan finansial. Kami tetap bersyukur atas restu setengah hati itu, soal rezeki Tuhan yang mengatur. Dan akhirnya kami menikah pada tahun 1990.
Sebagai seorang perantau, ketika saya menjadi mahasiswa banyak mengisi kehidupan ini dengan berbagai kegiatan , baik kegiatan akademik, social dan keagamaan. Kami pernah berada di desa playen, Gunung kidul untuk melaksanakan KKN. Kegiatan ini kami isi dengan kegiatan agama, social, ekonomi dan budaya. Diantara kegiatan ekonomi kami membina kelompok ternakan lembu. Untuk persediaan makanan lembu kami anjurkan menanam rumput kolojono. Dari kegiatan ini saya sempat dipanggil oleh Asia Fondation atas usaha sebuah LSM di Jakarta untuk dididik di UI Jakarta selama 6 bulan tentang demografi. Kami juga merintis berdirinya sebuah masjid di tempat itu dan Alhamdullilah masjid tersebut sampai sekarang masih tegak berdiri dengan kokoh.
Sebagai seorang mahasiswa yang segala sesuatu kebutuhan harus menanggung sendiri, studi saya sedikit tersendat, maklum tidak dapat konsentrasi. Pada suatu saat saya dipanggil oleh bapak dekan fakultas adab Bapak Dr Nourroman Ash-shidqi Beliau meminta saya segera menyelesaikan kuliah, karena beliau sudah muak meliat tampang saya. sebab saya disamping sudah terlalu lama juga sering terlibat dalam demontrasi. Saya menyanggupi tapi saya mohon bantuan beliau membantu saya. saya diberi pinjaman mesin ketik brother dan uang Rp 15.000,- untuk photo copy. Akhirnya saya berhasil dalam pendadaran sebagai sarjana pada tahun 1988. Setelah saya lulus ujian, saya diminta mengikuti wisuda sebagai pelantikan secara resmi status saya sebagai sarjana IAIN.
Pada malam wisuda itu, saya bingung, pikiran saya menerawang masa depan, berbagai pertanyaan muncul, apa yang akan saya kerjakan setelah saya selesai studi jika saya pulang kampung disana saya akan kerja apa ? jika tetap di yogya apa yang akan saya lakukan ? Dalam kebingungan saya keluar. Saya berjalan kaki dari Masjid IAIN di demangan ke masjid besar Alun-alun Utara Yogyakarta. Sepanjang jalan saya membaca kalimat tahlil, tasbih, tahmid dan takbir.
Karena kekhusukan saya berdzikir, tak terasa diperjalanan, sampai saya dimasjid kauman tepat jam 02.00 WIB malam, saya berniat sholat malam di dalam masjid, tapi semua pintu masuk ke komplek Masjid terkunci, saya nekat meloncat pagar, berwudhu dan sholat malam. Tanpa saya sadari ternyata tingkah laku saya diawasi oleh para petugas ronda. Saya dicurigai sebab sat itu sedang panas-panasnya peristiwa ninja. Saya digelandang ke pos ronda dan di interograsi , untunglah salah satu dari orang yang bertkerumun ada yang mengenal saya, Selamatlah saya dari kecurigaan orang banyak. Saya dilepas, kemudian saya kembali lagi ke Masjid untuk msholat shubuh. Selesai Sholat sshubuh saya bergegas pulang ke Masjid IAIN karena hari itu akan wisuda. Dengan berlari-lari kecil akhirnya saya sampai di Masjid IAIN pukul 06.30 WIB pagi. Di kampus sudah banyak mahasiswa beserta keluarganya yang sudah siap merayakan peristiwa bersejarah itu., Saya pun dapat mengikuti prosesi wisuda meski tanpa kehadiran oleh satupun dari keluarga kecuali calon istri yang dengan setia menyambut hari kemenangan kami . Menang dalam perjuangan melawan nasib diperantauan.
Perjalan hidup ini panjang Insya Allah, perjuangan belum berakhir. Namun kami yakin suatu saat nantinya saya akan menghadap kehadiratNya. Jadikalah hidupmu sebagai seorang musafir, kelak akan kembali ke tempat asal, maka isilah saat kehidupan dengan

Rabu, 19 Oktober 2011

Ikhlas Dan Beberapa Perusaknya

بسم الله الرحمن الرحيم

Pentingnya amalan hati

Secara umum amalan hati lebih penting dan ditekankan daripada amalan lahiriyah. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mengatakan:"Bahwasanya ia meru pakan pokok keimanan dan landasan utama agama, seperti mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala dan rasulNya, bertawakal kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , ikhlas dalam menjalankan agama semata-mata karena Allah Subhannahu wa Ta'ala , bersyukur kepadaNya, bersabar atas keputusan atau hukumNya, takut dan berharap kepadaNya,.. dan ini semua menurut kesepakatan para ulama adalah perkara wajib (Al fatawa 10/5, juga 20/70)

Imam Ibnu Qayyim juga pernah berkata: "Amalan hati merupakan hal yang pokok dan utama, sedangkan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat ibarat ruh, dan gerakan anggota badan adalah jasadnya. Jika ruh itu terlepas maka matilah jasad. Oleh karena itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan hati lebih penting daripada memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerakan anggota badan (Badai 'ul Fawaid 3/224).

Lebih jauh lagi dalam kitab yang sama beliau menegaskan bahwa perbuatan yang dilakukan anggota badan tidak ada manfaatnya tanpa amalan hati, dan sesungguhnya amalan hati lebih fardhu (lebih wajib) bagi seorang hamba daripada amalan anggota badan.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas merupakan hakikat dari agama dan kunci dakwah para rasul Shallallaahu 'alaihi wa Salam .
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. 98:5)
Juga firmanNya yang lain, artinya: "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. 67:2)
Berkata Al Fudhail (Ibnu Iyadl, penj), makna dari kata ahsanu 'amala (lebih baik amalnya) adalah akhlasuhu wa Ashwabuhu, yang lebih ikhlas dan lebih benar (sesuai tuntunan).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu beliau berkata: 'Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam bersabda, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Aku adalah Tuhan yang tidak membutuhkan persekutuan , barang siapa melakukan suatu per-buatan yang di dalamnya menyekutukan Aku dengan selainKu maka Aku tinggalkan dia dan juga sekutunya." (HR. Muslim).

Oleh karenanya suatu ketaatan apapun bentuknya jika dilakukan dengan tidak ikhlas dan jujur terhadap Allah, maka amalan itu tidak ada nilainya dan tidak berpahala, bahkan pelakuknya akan menghadapi ancaman Allah yang sangat besar. Sebagaimana dalam hadits, bahwa manusia pertama yang akan diadili pada hari kiamat nanti adalah orang yang mati syahid, namun niatnya dalam berperang adalah agar disebut pemberani. Orang kedua yang diadili adalah orang yang belajar dan mengajarkan ilmu serta mempelajari Al Qur'an, namun niatnya supaya disebut sebagai qori' atau alim. Dan orang ketiga adalah orang yang diberi keluasan rizki dan harta lalu ia berinfak dengan harta tersebut akan tetapi tujuannya agar disebut sebagai orang yang dermawan. Maka ketiga orang ini bernasib sama, yakni dimasukkan kedalam Neraka. (na'udzu billah min dzalik).

Pengertian Ikhlas

Ada beberapa pengertian ikhlas, diantarnya:
  • Semata-mata bertujuan karena Allah ketika melakukan ketaatan.
  • Ada yang mengatakan ikhlas ialah membersihkan amalan dari ingin mencari perhatian manusia.
  • Sebagian lagi ada yang mendefinisikan bahwa orang yang ikhlas ialah orang yang tidak memperdulikan meskipun seluruh penghormatan dan peng-hargaan hilang dari dirinya dan berpindah kepada orang lain,karena ingin memperbaiki hatinya hanya untuk Allah semata dan ia tidak senang jikalau amalan yang ia lakukan diperhatikan oleh orang,walaupun perbuatan itu sepele.
    Ditanya Sahl bin Abdullah At-Tusturi, Apa yang paling berat bagi nafsu? Ia menjawab: "Ikhlas, karena dengan demikian nafsu tidak memiliki tempat dan bagian lagi." Berkata Sufyan Ats-Tsauri: "Tidak ada yang paling berat untuk kuobati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah."
Perusak-perusak Keikhlasan

Ada beberapa hal yang bisa merusak keikhlasan yaitu:
  • Riya' ialah memperlihatkan suatu bentuk ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu orang-orangpun memujinya.
  • Sum'ah, yaitu beramal dengan tujuan untuk didengar oleh orang lain (mencari popularitas).
  • 'Ujub, masih termasuk kategori riya' hanya saja Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan keduanya dengan mengatakan bahwa: "Riya' masuk didalam bab menyekutukan Allah denga makhluk, sedang ujub masuk dalam bab menyekutukan Allah dengan diri-sendiri. (Al fatawaa, 10/277)
    Disamping itu ada bentuk detail dari perbuatan riya' yang sangat tersembunyi, atau di sebut dengan riya' khafiy' yaitu:
  • Seseorang sudah secara diam-diam melakukan ketaatan yang ia tidak ingin menampakkannya dan tidak suka jika diketahui oleh banyak orang, akan tatapi bersamaan dengan itu ia menyukai kalau orang lain mendahului salam terhadapnya, menyambutnya dengan ceria dan penuh hormat, memujinya, segera memenuhi keinginannya, diperlakukan lain dalam jual beli (diistimewakan), dan diberi keluasan dalam tempat duduk. Jika itu semua tidak ia dapatkan ia merasa ada beban yang mengganjal dalam hatinya, seolah-olah dengan ketaatan yang ia sembunyikan itu ia mengharapkan agar orang selalu menghormatinya.
  • Menjadikan ikhlas sebagai wasilah (sarana) bukan maksud dan tujuan.
    Syaikhul Islam telah memperingatkan dari hal yang tersembunyi ini, beliau berkata: "Dikisahkan bahwa Abu Hamid Al Ghazali ketika sampai kepadanya, bahwa barangsiapa yang berbuat ikhlas semata-mata karena Allah selama empatpuluh hari maka akan memancar hikmah dalam hati orang tersebut melalui lisanya (ucapan), berkata Abu Hamid: "Maka aku berbuat ikhlas selama empat puluh hari, namun tidak memancar apa-apa dariku, lalu kusampaikan hal ini kepada sebagian ahli ilmu, maka ia berkata: "Sesungguhnya kamu ikhlas hanya untuk mendapatkan hikmah, dan ikhlasmu itu bukan karena Allah semata.

    Kemudian Ibnu Taymiyah berkata: "Hal ini dikarenakan manusai terkadang ingin disebut ahli ilmu dan hikmah, dihormati dan dipuji manusia, dan lain-lain, sementara ia tahu bahwa untuk medapatkan semua itu harus dengan cara ikhlas karena Allah.Jika ia menginginkan tujuan pribadi tapi dengan cara berbuat ikhlas karena Allah,maka terjadilah dua hal yang saling bertentangan. Dengan kata lain, Allah di sini hanya dijadikan sebagai sarana saja, sedang tujuannya adalah selain Allah.
  • Yaitu apa yang diisyaratkan Ibnu Rajab beliau berkata: "Ada satu hal yang sangat tersembunyi, yaitu terkadang seseorang mencela dan menjelek-jelekan dirinya dihadapan orang lain dengan tujuan agar orang tersebut menganggapnya sebagai orang yang tawadhu' dan merendah, sehingga dengan itu orang justru mengangkat dan memujinya. Ini merupakan pintu riya' yang sangat tersembunyi yang selalu diperingatkan oleh para salafus shaleh.
Cara-cara mengobati riya'
  • Harus menyadari sepenuhnya , bahwa kita manusia ini semata-mata adalah hamba. Dan tugas seorang hamba adalah mengabdi dengan sepenuh hati, dengan mengharap kucuran belas kasih dan keridhaanNya semata.
  • Menyaksikan pemberian Allah, keutamaan dan taufikNya, sehingga segala sesuatunya diukur dengan kehendak Allah bukan kemauan diri sendiri.
  • Selalu melihat aib dan kekurangan diri kita, merenungi seberapa banyak bagian dari amal yang telah kita berikan untuk hawa nafsu dan syetan. Karena ketika orang tidak mau melakukan suatu amal, atau melakukannya namun sangat minim maka berarti telah memberikan bagian (yang sebenarnya untuk Allah), kepada hawa nafsu atau syetan.
  • Memperingatkan diri dengan perintah-perintah Allah yang bisa memperbaiki hati.
  • Takut akan murka Allah, ketika Dia melihat hati kita selalu dalam keadaan berbuat riya'.
  • Memperbanyak ibadah-ibadah yang tersembunyi seperti qiyamul lail, shadaqah sirri, menagis karena Allah dikala menyandiri dan sebagainya.
  • Membuktikan pengagungan kita kepada Allah, dengan merealisasikan tauhid dan mengamalkannya.
  • Mengingat kematian dan sakaratul maut, kubur dan kedah syatannya, hari akhir dan huru-haranya.
  • Mengenal riya', pintu-pintu masuk dan kesamarannya, sehingga bisa terbebas darinya.
  • Melihat akibat para pelaku riya' baik di dunia maupun di akhirat.
  • Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah dari perbuatan riya'dengan membaca doa:"Ya Allah aku berlindung kepadamu dari berbuat syirik padahal aku mengetahui,dan aku mohon ampun atas apa-apa yang tidak ku ketahui."
    Wallahu a'lam bis shawab.

Disarikan dari buku al ikhlash wa asy syirkul asghar,Dr Abdul Aziz bin Muhammad Al Abdul Lathif, Darul Wathan Riyadh
(Ibnu Djawari)

7 Amalan yang Tetap Lestari Pahalanya Meskipun Sudah Meninggal Dunia

  • Ada tujuh perkara yang pahalanya mengalir sedangkan ia berada di kuburnya setelah mati, yaitu Orang yang mengajarkan ilmu, Orang yang mengalirkan sungai, Orang yang menggali sumur, Orang yang menanam pohon kurma, Orang yang membangun masjid, Orang yang mewariskan mushaf Al-Qur’an dan Orang meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah meninggal. ( H.R. Bazzar )

1. Amalan yang pertama dari tujuh amalan yang merupakan amalan yang terus mengalir pahalanya ini adalah mengajarkan ilmu, yang dimaksud ilmu ini adalah ilmu yang mbermanfaat yang membuat orang lain dapat mengenal ajaran agama mereka, yang membuat orang lain dapat mengenal Allah Subhanallahu Wata’ala bisa meniti jalan yang lurus. Ilmu yang dapat membuat orang tersebut dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan , yang mereka dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan dan dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini menunjukkan keutamaan para ulama dan para dai yang ikhlas. Mereka mengajari orang-orang yang tidak tahu dan mengingatkan orang-orang yang lupa. Ketika mereka meninggal ilmu mereka tetap mengalir pahalanya. Ketika seorang ulama meninggal, tetapi kitab dia tetap ada. Generasi-generasi setelahnya dapat mengambil ilmu tersebut. Termasuk dalam keutamaan mengajarkan ilmu ini adalah menyumbang menyebarkan kitab. Orang yang seperti ini juga tidak akan kehilangan kesempatan meraih pahala ini.

2. Amalan yang kedua adalah mengalirkan sungai. Yaitu membuka aliran sungai sehingga penduduk dapat menikmati air tersebut ke sawah-sawah mereka, pohon-pohon pun dapat menikmati air tersebut. Sungguh bermanfaat sekali aliran sungai ini. Orang yang mengalirkan sungai tersebut mendapat pahala seiring dengan penggunaan air dari aliran sungai tersebut.

3. Amalan yang ketiga adalah menggali sumur. Ini tidak jauh berbeda dengan amalan yang kedua yaitu mengalirkan sungai.
  • Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tatkala seorang lelaki sedang berjalan pada sebuah jalan terasalah olehnya dahaga yang sangat. Lalu ia mendapati sebuah sumur dan bersegeralah ia meneruninya untuk minum. Ketika keluar, tiba-tiba dia melihat seekor anjing menjulurkan lidah sambil menjilat-jilati debu karena sangat haus. Lelaki itu berkata: Anjing ini sedang kehausan seperti aku tadi lalu turunlah dia kembali ke dalam sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya dengan air lalu digigit agar dapat naik kembali. Kemudian ia meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Allah berterima kasih kepadanya lalu mengampuninya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah kami akan mendapatkan pahala karena binatang-binatang seperti ini? Rasulullah saw. menjawab: Pada setiap yang bernyawa (mahluk hidup) ada pahalanya. (Shahih Muslim No.4162).Dalam pemeliharaan setiap makhluk hidup yang basah itu ada pahalanya.
Banyak sekali yang dapat mengambil manfaat dengan menggali sumur tersebut. Jelas hal ini merupakan keutamaan yang sangat besar.

4. Amalan yang keempat adalah menanam pohon kurma. Pohon kurma ini sangat besar manfaatnya dan dimakan dalam berbagai keadaan. Ketika sedikit manis, itu dapat dimanfaatkan. Ketika sudah manis, juga dapat dimanfaatkan. Dan termasuk dalam hukum, menanam pohon selain kurma, yang bermanfaat bagi manusia juga mendapat pahala selama pohon tersebutdapat bermanfaat bagi binatang maupun manusia. Orang yang menanam pohon tersebut akan mendapatkan pahala selama pohon tersebut dapat dimanfaatkan.

5. Amalan yang kelima adalah membangun masjid. Di masjid ini akan didirikan berbagai ibadah, salat, membaca Al-Qur’an, zikir, mengajarkan ilmu, halaqah-halaqah, hafalan Al-Qur’an, buka puasa bersama, dan lain-lain. Semua amalan ini akan mengalirkan pahala bagi orang yang membangunnya. Barangsiapa yang membangun masjid dengan mengharap ridha Allah semata, maka Allah akan membangunkan masjid yang serupa di surga.

6. Amalan yang keenam adalah mewariskan mushaf, maksudnya adalah mencetak mushaf Al-Qur’an, atau membelinya kemudian mewakafkannya ke sebuah masjid atau sekolahan atau halaqah hafalan Al-Qur’an, amalan seperti ini akan mengalirkan pahala setiap Al-Qur’an tersebut dibaca, ditadaburi, dan setiap ada orang yang mengamalkan ilmu dari Al-Qur’an tersebut.

7. Amalan yang ketujuh adalah mendidik anak-anak dengan baik, sehingga anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang saleh, menjadi anak-anak yang menjadi penyeduk mata bagi orang tua, anak-anak tersebut akan beristigfar, bersedekah. Amalan seperti ini juga akan mengalirkan pahala bagi orang tua mereka, setelah orang tua ini terputus dari amalan, dan menunggu di kuburan. Ajarkanlah kepada mereka Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya, ajarilah mereka adabadab yang baik.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Manfaat Membaca Ratib Al Attas

Kita tentu tidak asing lagi dengan Ratib Al athos yang selalu dibaca baik itu di majelis-majelis ta’lim maupun diamalkan secara individu. Rotib AL athos adalah susunan dzikir yang disusun oleh Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir di Hadromaut, Yaman pada tahun 992 H atau 1572 M di kota Isnat. Ayah beliau bernama Al Habib Abdurrahman bin aqil dan Ibunya bernama syarifah Muznah binti Muhammad Al jufri. Karamah kewalian Habib Umar bin abdurrahman Al Attas sudah nampak sejak beliau dalam kandungan ibunya, janin tersebut bersin dan tentu ini adalah sesuatu diluar kebiasaan manusia pada umumnya, sehingga beliau mendapat gelar “Al Attas (orang yang bersin). Sejak kecil Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas sudah mengalami kebutaan, namun tidak mengurangi semangat beliau dalam menuntut ilmu. Beliau belajar dari ayahnya dan ulama-ulama setempat lainnya, seperti Syekh Umar bin Isa, Syekh Abu Bakar bin Salim dan Habib Husein bin Syekh Abubakar bin Salim. Beliu juga membuka ta'lim dengan mengajarkan ilmu agama. Dakwahnya pun menyebar ke segenap penjuru Hadramaut.
Belakangan, ia dikenal sebagai seorang sufi yang banyak menguasai ilmu lahir dan batin, pengayom anak yatim piatu, janda, dan fakir miskin. Siang mengajar, malamnya ia gunakan untuk melakukan riyadhah, beribadah, bermunajat kepada Allah SWT, dan sangat jarang tidur. Sebagai ulama besar dan sufi, Habib Umar dikenal dengan beberapa karamahnya. Ia sangat termasyhur, bahkan sampai ke negari Cina. Suatu hari, salah seorang anak Habib Abdurrahman melawat ke Cina. Di sana ia bertemu seorang sufi yang memberi salam dan hormat, padahal ia tidak mengenalnya.
”Bagaimana engkau mengenalku, padahal kita belum pernah berjumpa?” tanyanya. ”Bagaimana aku tidak mengenal engkau? Ayahmu, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, adalah guru kami, dan kami sangat menghormatinya. Habib Umar sering datang ke negeri kami dan ia sangat terkenal di negeri ini,” jawab sufi tersebut. Padahal jarak antara Hadramaut dan Cina sangat jauh, namun Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas telah berdakwah sampai ke sana.
Syekh Muhammad Baqais, salah seorang muridnya, bercerita, ”Satu kali Habib Umar mendamaikan beberapa suku yang berperang sampai berkali-kali. Tapi, tetap saja ia tidak mendapatkan tanggapan baik. Karena itu beliau pun melemparkan biji tasbihnya kepada mereka. Dengan izin Allah biji tasbih itu menjadi ular. Barulah mereka sadar dan mohon maaf. ”Nama Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas tak bisa dipisahkan dari karya agung yang diberinya judul ‘Azizul Manal wa Fathu Babil Wishal," alias “Anugerah nan Agung dan Pembuka Pintu Tujuan” – yang dibelakang hari sangat terkenal sebagai Ratib Al Attas. Habib Umar sendiri berwasiat, “Rahasia dan hikmah telah kutitipkan didalam ratib itu.”
Melindungi Kota
Menurut Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta Pusat), Ratib Al Attas lebih tua dibanding Ratib Al Haddad. Ratib Al Haddad disusun pada 1071 H / 1651 M oleh Habib Abdullah Al Haddad, atau sekitar 350 tahun lalu, sedang Ratib Al Attas disusun jauh sebelumnya. Ada beberapa wirid atau doa yang tidak ada dalam Ratib Al-Atthas tapi terdapat dalam Ratib Al-Haddad, demikian pula sebaliknya. Namun, seperti ratib-ratib yang lain, keduanya tetap mengacu pada doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ratib Al-Atthas biasa dibaca usai salat Magrib, tapi boleh juga dibaca setiap pagi, siang, atau tengah malam. Bisa dibaca sendiri atau secara berjamaah. Manfaat ratib ini sangat besar. Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan, dengan membaca Ratib Al-Attas atau Ratib Al-Haddad setiap malam, Allah SWT akan menjaga dan memelihara seluruh penghuni kota tempat tinggal kita, menganugerahkan kesehatan, dan mengucurkan rezeki-Nya kepada segenap penduduk.
Makam Habib Umar bin Abdurrahman Al Attos
Dalam keadaan sangat khusus dan mendesak, ratib tersebut bisa dibaca tujuh hingga 41 kali berturut-turut. Pendapat ini mengacu pada beberapa hadis Rasulullah SAW tentang manfaat istigfar dan doa-doa lainnya. Sebab, dalam ratib-ratib tersebut antara lain terdapat shalawat, tahlil, tasbih, tahmid, dan istigfar. Begitu hebat fadilah atau keutamaan ratib-ratib itu, hingga Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husein Al Attas menyatakan bahwa mereka yang mengamalkan ratib tersebut tidak akan terluka, jika pada suatu hari terpatuk ular. “Orang yang biasa mengamalkan ratib-ratib itu tidak akan merasa takut, ia akan selamat dari segala yang ditakuti,” katanya. Betapa hormat para ulama kepada Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas. Tergambar ketika suatu hari seorang ulama, Syekh Salim bin Ali, mengunjungi Imam Masjidil Haram, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf, dan menyampaikan salam dari Habib Umar. Seketika itu juga Habib Muhammad pun menundukan kepala sejenak, lalu katanya, ”Layaklah setiap orang menundukkan kepala kepada Habib Umar. Demi Allah, saya mendengar suara gemuruh di langit untuk menghormati beliau. Sementara di bawah langit ini tidak ada orang lebih utama daripada beliau.” Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas wafat pada 23 Rabiulakhir 1072 H / 1652 M, dan jenazahnya dimakamkan di Desa Nafhun dekat Huraidhoh Hadromaut yaman.

Rabu, 12 Oktober 2011

Kutipan Ceramah Majlis Nurul Musthofa 30 Oktober 2011

Diantara keuntungan-keuntungan yang dimiliki oleh orang orang yang bertaqwa adalah :
1) Jalan keluar yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang bertaqwa dari segala macam kesulitan dan kesusahan.
2) Rezeki dari Allah SWT dari jalan yang tidak dikira-kirakan.
3) Kemudahan didalam setiap pekerjaannya.
4) penghapusan dosa dari Allah SWT.
5) Limpahan ganjaran pahala yang besar dari Allah SWT.
6) Janji dari Allah SWT berupa syurga


     Pembacaan solawat itu tidak memerlukan syarat untuk diterima oleh Allah SWT bahkan tidak memerlukan kekhusuan atau hadirnya hati kita dalam membaca solawat tersebut. Lalu bagaimana apabila kita membacanya dengan hati yang hadir dan ikhlas maka niscaya kita sudah pasti akan mendapatkan sepuluh rahmat dan ampunan dari Allah SWT sebagaimana Nabi Adam AS diampuni karena menyebut nama nabi Muhammad SAW.

     Musim haji telah tiba maka hendaknya kita sebagai umat islam untuk lebih memperhatikan ibadah haji ini karena ini merupakan perintah dari Allah SWT bagi orang-orang yang mampu untuk mengerjakannya. Apalagi Rasulullah SAW telah mengkabarkan didalam hadistnya bahwa orang yang mengeluarkan hartanya untuk membiayai orang agar naik haji maka pahalanya sama dengan orang yang membiayai orang yang berjuang dijalan Allah SWT berperang melawan orang kafir dipeperangan Dan satu dirhamnya itu akan dilipatkan pahalanya sampai tujuh ratus kali lipat.

     Ketaqwaan akan membawa kita masuk kedalam syurganya Allah SWT akan tetapi tidaklah Allah SWT memberikan syurga tersebut kecuali hanya kepada orang yang tidak memiliki rasa sombong didalam hatinya dan tidak melakukan kerusakan-kerusakan berupa perbuatan-perbuatan maksiat dimuka bumi ini.

     Hendaklah kita tidak mengucapkan ingin naik haji bila ingin melaksanakan ibadah haji akan tetapi hendaklah kita mengucapkan ingin berziarah kemaqam Nabi Muhammad SAW karena kita tidak akan tahu syariat ibadah haji kecuali dari Nabi Muhammad SAW. Apalagi dizaman sekarang yang penuh dengan bencana alam kita harus selalu ingat kepada Rasulullah SAW dengan memperbanyak solawat dengan menghadiri majlis-majlis maulid Nabi agar Nabi selalu berada pada diri kita sehingga kita tidak akan tertimpa musibah karena Al Qur’an telah mengkabarkan bahwa Allah SWT tidak akan menyiksa orang-orang selama Rasulullah SAW masih ada diantara kita maka dengan cara kita menghidupkan kembali majlis ilmu dengan cara kita menghadirinya dan mengerjakan sunah Nabi maka seakan-akan kita telah menghidupkan kembali Nabi Muhammad SAW. Selain itu apabila kita tidak ingin terkena azab Allah SWT kita harus memperbanyak istigfar minta ampun kepada Allah SWT dan kita juga harus bisa menegakan hukum dengan adil tanpa membeda-bedakan orang karena hancurnya orang-orang terdahulu dikarenakan mereka tidak adil dalam menegakan hukum agama sehingga apabila seorang yang terhormat melanggar mereka tidak menghukumnya akan tetapi apabila seorang yang hina melanggar mereka langsung menghukumnya.

Keutamaan Dan Etika Salam

بسم الله الرحمن الرحيم

I. Keutamaan Salam.
  • Mengucapkan salam merupakan salah satu perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam hadits Barra’ bin Azib, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk melakukan tujuh perkara, yaitu; menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah, mendo’akan orang bersin yang mengucapkan alhamdulillah, membantu orang yang lemah, menolong orang yang dizhalimi, mengucapkan salam dan memenuhi sumpah.” (Muttafaq alaih).
  • Menimbulkan kasih sayang antar sesama, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
    “Tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak beriman sehingga kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu perbuatan yang bisa membuatmu saling mencintai; yaitu tebarkan salam antar sesamamu.” (HR. al Bukhari - Muslim).
  • Merupakan amalan yang terbaik dalam Islam. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam: “Apakah amalan yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab:
    “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR. al Bukhari - Muslim).
  • Mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah, sebagaimana firmanNya:
    “Maka ketika kamu masuk rumah, ucapkan salam untuk dirimu sebagai penghormatan dari Allah yang berisi berkat dan kebaikan.” (An-Nur: 61).
  • Termasuk di antara perbuatan yang bisa memasukkan pelakunya ke dalam surga. Abu Yusuf Abdullah bin Salam Radhiallaahu anhu berkata; saya pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
    ”Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukan silaturrahim, dan shalatlah ketika orang lain tidur malam, maka engkau akan masuk ke surga dengan selamat.” (HR. At Tirmidzi, dia berkata: “hasan shahih”).
II. Cara Mengucapkan Salam
  • Imam an-Nawawi berkata; Disunahkan untuk memulai salam dengan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”, dengan memakai dhamir jamak (kum), sekalipun sendirian. Dan menjawabnya dengan ucapan” Wa’alaikumus-salam warahmatullah wabarakatuh”, dengan menambah “wa” pada kata wa’alaikum. (Riyadhush-shalihin halaman 290). Orang yang mendapatkan salam, wajib menjawabnya dengan yang lebih baik atau semisal dengan salam yang dia terima. Sebagai-mana firman Allah:
    “Apabila kamu diberi hormat (salam), maka hendaklah engkau menjawabnya dengan salam yang lebih baik atau yang serupa dengan yang diucapkannya.” (An-Nisa; 86)
  • Apabila mendatangi para sahabat, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam mengucapkan salam sampai tiga kali (HR. al Bukhari dari Anas bin Malik). Imam an Nawawi mengomentari hadits ini dengan mengatakan; hal ini mungkin dilakukan karena sahabat dalam jumlah yang besar (Riyadhush-shalihin halaman 290).
  • Orang yang mengendarai kendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki. Yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk. Dan yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan yang kecil (muda) mengucapkan salam kepada yang besar (tua). sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al Bukahri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu.
  • Mengucapkan salam dengan suara sebatas yang bisa didengar oleh orang yang diberikan salam, sebagai-mana yang diriwayatkan oleh Miqdad beliau berkata; kami menyediakan susu untuk Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau datang di waktu malam dan mengucapkan salam yang bisa didengar oleh orang yang terjaga dan tidak membuat orang yang tidur terbangun. (HR. Muslim).
  • Tidak boleh memulai salam kepada orang kafir sebagaimana yang diriwayatkakn oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
    “Jangan kamu memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani, apabila kamu bertemu dengan mereka di jalan maka sempitkan jalannya”. (HR.Muslim).
    Dan jika mereka mengucapkan salam kepada kita, cukup dijawab dengan ucapan “Wa’alaikum” (Muttafaq alaih). Apabila di sebuah majlis bercampur antara orang muslim dan non muslim maka boleh mengucapkan salam, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam ketika melewati sebuah majlis yang di sana ada orang muslim, musyrik, penyembah patung, beliau memulai mengucapkan salam. (Muttafaq Alaih).
III. Waktu Mengucapkan Salam.
  • Ketika bertemu dengan orang lain baik yang sudah dikenal maupun yang belum. Dan yang lebih baik adalah orang yang pertama memulai, sebagaimana hadits Abi Umamah al-Bahili, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, artinya: “Sesungguhnya orang yang lebih baik di sisi Allah adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang baik). Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
    “Apabila kamu bertemu dengan saudaramu maka ucapkanlah salam, Jika terhalang dengan pohon, tembok atau batu, maka ucapkan salam ketika menemuinya”. (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih).
  • Mengucapkan salam juga disunahkan ketika bertemu dengan anak kecil sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau mengucapkan salam kepada anak kecil (Muttafaq alaih). Imam al Bukhari dalam kitabnya al Adabul Mufrad menyebutkan bahwa Salamah bin Wirdan berkata; saya melihat Anas bin Malik menyalami orang-orang dan berkata kepadaku: “Siapa kamu?” Saya menjawab: “Saya seorang anak dari Bani Laits”, kemudian beliau mengusap kepalaku tiga kali dan berkata; “Semoga Allah memberkati-mu.” (Imam Albani berkata sanadnya hasan). Juga boleh mengucapkan salam kepada wanita, baik yang mahram maupun orang lain selama tidak menimbulkan fitnah. Sebaliknya wanita juga boleh mengucapkan salam kepada laki-laki seperti yang dilakukan oleh Umi Hani, ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam di waktu terjadinya penaklukan kota Makkah. (HR. Muslim).
  • Ketika akan memasuki rumah orang lain. Allah berfirman:
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu masuk ke rumah orang lain, hingga kamu minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni-nya”. (QS.An-Nur; 27). Juga ketika memasuki rumah sendiri sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nur ayat 61.
    Ketika masuk dan keluar dari sebuah majlis, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
    ”Apabila seorang masuk ke sebuah majlis maka hendaknya mengucapkan salam. Dan jika dia mau pergi hendaklah mengucapkan salam, tidaklah (salam) yang pertama tadi lebih berhak (untuk diucapkan) daripada yang akhir.”. (HR. Abu Daud, Imam al Albani berkata; hadits hasan dan shahih). Maksudnya, kedua salam tersebut sama haknya untuk diucapkan.
  • Apabila ada orang yang menitipkan salam, maka yang menerima titipan salam tersebut mengatakan “Wa’alaihis-salam warahmatullahi wabara-kaatuh”. Sebagaimana yang dilakukan Aisyah ra ketika menerima titipan salam dari Jibri as lewat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam. (HR.al Bukhari- Muslim)